| Oleh: Salman Faridi | |
| Orang seperti saya, ketika bertemu dengan Matematika selalu mengerutkan lebih banyak lipatan di kening. Bukan apa-apa. Saya punya kenangan buruk bersama pelajaran yang satu ini. Dari dulu, saya tidak pernah benar-benar mengerti tentang Matematika. Yang jelas, kalau berurusan dengan duit pasti tidak akan meleset! Hehehe, ini saya pikir lebih realistis dibandingkan hitungan integral, bilangan negatif, dan rumus-rumus lainnya. Nah, persis seminggu yang lalu saya betul-betul dihempaskan dengan kenyataan bahwa matematika itu mudah dan menyenangkan. Bersama 200-an guru yang hadir dalam sebuah lokakarya yang difasilitasi oleh departemen Matematika ITB, saya pun manggut-manggut menyadari kekeliruan saya selama ini. Pertama-tama kami dikenalkan dengan soal hitungan. Katakanlah 30 x 15. yang ditanyakan tentu saja jawabannya berapa? Soal begini tentu saja mudah. Hampir semua guru bisa menjawab soal ini dengan cepat. Tapi komentar Pak iwan Pranoto, dosen matematika ITB, sungguh bikin keki. Dia bilang, "Bu, Pak. Kalo soal beginian bukan matematika namanya, karena gak pake otak." Tentu saja semua tak setuju. "Coba, di mana letak nggak pake otaknya Pak Iwan?" Tanya seorang guru. "Mudah saja. Kalkulator saya seharga lima rebu perak pun pasti bisa menjawabnya. Mudah kan? gak pake otak kan?" yakinnya. Semua guru tampaknya mencoba meyakini. Bahwa hitungan macam ini gak ada otaknya. Pak Iwan kembali meneruskan. Saat ini banyak sekali yang kita ajarkan tentang Matematika, sama sekali tidak berdasar otak, tapi lebih ke otot. Contoh umumnya, orang yang belajar sempoa atau metode apa pun yang digunakan untuk bisa menghitung lebih cepat, relatif tidak menggunakan otak. "Yang mereka pake Cuma otot," Ujar pak Iwan sambil mengangkat tangan kanannya dan memperlihatkan otot bisep yang menyembul di sana. untuk lebih memperkuat gagasannya tentang sempoa, pak iwan bereksperimen dengan sejumlah soal cerita. ternyata, anak-anak "pintar" ini kelabakan menyelesaikannya. Problemnya? matematika itu persoalan nalar, otak. bukan hanya cepet-cepetan menghitung. atmosfir ruangan berubah semakin hangat saat para guru dipertemukan dengan kesalahan-kesalahan cara mengajarkan matematika terhadap anak didik. seringkali siswa kita ajarkan dengan menggunakan jalan pintas ketimbang menemukannya sendiri. ini contoh lainnya yang menarik lagi. ada dua pertanyaan; Perhatikan angka lima di bawah angka 3
Padahal ternyata bisa juga dimulai dari mana pun. memangnya tidak boleh kalau Sambil menjelaskan, Pak iwan menyisipkan penjelasan tentang alat peraga bernama multi base system. alat peraga ini berfungsi efektif untuk -selain menghitung juga mengenalkan dimensi kepada siswa. satuan diwakili dengan kancing, puluhan (berisi angka sepuluh) diibaratkan satu penggaris, ratusan dicontohkan dengan bungkus cd berbentuk kubus. lalu ribuan, merupakan jumlah kepingan bungkus cd yang berjumlah 10. bingung ya? :) Ini penjelasannya. bungkus cd yang mewakili ratusan mengenalkan luas. (bayangkan ada 10 penggaris yang disusun ke samping.) sedangkan ribuan, mengenalkan bentuk tiga dimensi. ada volume di sana! (bayangkan 10 keping cd yang disusun). jadi, selain berhitung, siswa juga diajarkan mengenali bentuk, memahami ruang, memahami luas dan volume. saya? boro-boro pernah dapet pelajaran kayak ginian. hiks ... :( "Nah, biarkanlah siswa mencoba, eksplorasi, kreatif," begitu tegas pak Iwan. Kali ini agak sengit. jika siswa dibiarkan mencari sendiri, nanti akan ketemu sendiri ternyata mengalikan dengan jumlah ratusan itu, jauh lebih lama dibandingkan dengan mengalikan dari belakang. "tring" siswa akhirnya tahu cara yang paling efektif untuk menyelesaikan soal yang dihadapinya. Cara-cara seperti ini, tidak perlu dilakukan guru. tapi, biarkanlah siswa yang menemukannya sendiri. explore! discover! Matematika, pada dasarnya adalah bernalar, reasoning. jadi tidak terletak pada penghafalan sejumlah rumus. rumus itu sebaliknya ditemukan, karena matematika juga berdasar pada pengenalan pola-pola. semakin lama menyimaka penjelasan pak Iwan ini, saya semakin larut semakin dalam. "coba kalau anak saya nanti belajar dengan cara menyenangkan seperti ini. pasti bakal ngalahin bapaknya?" Begitu jerit saya dari lubuk hati yang paling dalam. seorang guru perempuan mengacungkan tangannya, "bagaimana cara kita mengajarkan bilangan bulat yang relatif tidak logis?" "tidak logis apanya Bu," tanya pak Iwan. "Begini Pak, saya seringkali kesulitan mengajarkan bilangan bulat negatif. Katakanlah negatif 2. yang tidak logisnya adalah saat ia dikalikan dengan saudara yang juga negatif, tiba-tiba ia berubah positif. kan kalau kita pake logika berhutang jadi tidak logis Pak. masak hutang 3 dikali hutang 3 hasilnya jadi penghasilan berjumlah 9?" guru-guru yang lain manggut-manggut termasuk saya, yang kebetulan satu-satunya bukan guru. masih bujangan lagi! Di bagian ini pak Iwan menjelaskan semacam doktrin teologis. "memang benar Bu. Konon katanya bilangan yang asli dari Tuhan itu hanya 1 sampai dengan 9. selebihnya sudah buatan manusia. 0 buatan manusia, -2, -3, buatan manusia, 1/4/ 1/5, buatan manusia juga. jadi yang betul-betul asli itu memang dari 1 sampai dengan 9. "Pertanyaan yang ibu sampaikan tadi," pak iwan melanjutkan lagi bicaranya, "merupakan salah satu contoh pengajaran matematika yang tidak berdasar kepada realitas. Seringkali kita mencekoki siswa dengan hal-hal yang abstrak, tidak nyata. akibatnya siswa kita kesulitan betul memahami matematika yang sepertinya melangit, mengawang-awang! Tapi bukan berarti bilangan bulat negatif dan sebagainya tidak berguna lho Bu! Banyak untungnya juga lho bilangan-bilangan ciptaan manusia. Baik, saya punya satu contoh lagi. Jika ada seorang pembeli membeli barang seharga Rp. 750,- dan ia menyodorkan uang lima ribuan, maka berapakah kembaliannya?" Ibu-ibu guru baik bapak guru menjawab tangkas EMPATRIBUDUARATUSLIMAPULUH! Tentu, bapak bisa cepet. tapi pertanyaannyabelum selesai. apa yang biasa dilakukan pedagang untuk mengembalikan uang kembaliannya kepada pembeli. apakah dengan Ternyata tidak! apa yang dilakukan pedagang biasanya, menggenapkan uang 750 dengan 250 rupiah, lalu menambahkan uang ribuan satu persatu ... duaribu, tigaribu, empatribu, limaribu. lengkap sudah! Bu, Pak. mohon maaf. tapi cara-cara pengembalian uang seperti pedagang ini jarang kita lakukan ya? yang kita ajarkan selalu membuat kotretan dengan mengurangi bilangan yang besar dulu, kemudian bilangan yang kecil. semua guru manggut-manggut! " Bener juga ya!" Yang ingin saya sampaikan, adalah mari kita mulai mengenalkan matematika dengan fun, asyik. selama ini kita terlalu serius mengajarkannya. mengajarkan sekian banyak rumus yang tidak pernah dicari tahu dari mana datangnya, mengenalkan sekian banyak hitungan tanpa menggali bahwa matematika itu sebetulnya berkaitan dengan kreativitas. pengenalan pola-pola! Sumber: http://www.lazuardi.web.id |
Senin, 27 September 2010
Matematika Itu Ternyata Menyenangkan!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar